fbpx

10 Jenis Rasio Aktivitas Beserta Rumusnya

Bagikan artikel ini:

Dalam melakukan pengelolaan keuangan bisnis, salah satu hal yang harus Anda perhatikan yaitu rasio aktivitas. Rasio aktivitas digunakan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan asetnya untuk menghasilkan kas dan pendapatan. Karena itu, rasio aktivitas juga dikenal sebagai rasio operasi atau analisis rasio perputaran. Selain itu rasio aktivitas juga digunakan untuk membandingkan bagaimana kinerja perusahaan berdasarkan tren dari waktu ke waktu atau bagaimana kinerja perusahaan bersaing dengan kompetitor. Rasio ini terdiri dari beberapa rasio yang saling berhubungan antara lain sebagai berikut.

Jenis-Jenis Rasio Aktivitas Beserta Rumusnya

1. Rasio Perputaran Total Aset (Total Asset Turnover)

Rasio ini  mengukur aktivitas aset dan kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan melalui asetnya. Rumus untuk menghitungnya yaitu sebagai berikut:

Total Asset Turnover = Penjualan Bersih ÷ Total Aset Rata-rata

Semakin tinggi rasio ini, maka semakin baik karena berarti perusahaan dapat menghasilkan lebih banyak penjualan dengan beberapa tingkat aset tertentu. Rasio perputaran persediaan dapat dibandingkan dengan perusahaan berukuran serupa lainnya dalam industri yang sama. Namun jika Anda menggunakannya untuk industri dan ukuran yang berbeda, maka hal itu tidak akan berguna.

Baca juga:   Aset Produktif : Pengertian, Jenis dan Contohnya

2. Rasio Perputaran Aset Lancar (Current asset turnover)

Rasio ini mirip dengan rasio perputaran persediaan, namun mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan dari aset lancarnya, seperti kas, inventaris, piutang, dll. Rumus untuk menghitungnya yaitu sebagai berikut:

Perputaran Aset Lancar = Penjualan Bersih ÷ Aset Lancar Rata-rata

Nilai yang lebih besar untuk rasio ini lebih disukai karena berarti perusahaan mampu menghasilkan lebih banyak penjualan dari sejumlah aset lancar tertentu.

3. Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover)

Rasio ini mengukur jumlah uang tunai yang dibutuhkan untuk menghasilkan tingkat penjualan tertentu. Berikut ini rumus untuk menghitungnya:

Penjualan menjadi Modal Kerja = Penjualan ÷ Modal Kerja Rata-rata

Nilai yang tinggi mengindikasikan penggunaan modal kerja yang menguntungkan atau penjualan mencukupi terkait modal kerja yang tersedia. Namun, perbandingan dengan perusahaan sejenis atau rata-rata industri harus dibuat sebelum menarik kesimpulan.

4. Rasio Perputaran Piutang (Accounts Receivable Turnover)

Rasio ini digunakan untuk mengukur berapa kali piutang dapat diubah oleh perusahaan menjadi uang tunai. Hasil perhitungan dapat disajikan dalam waktu per tahun atau per hari. Jika diukur dalam hitungan kali per tahun, tren penurunan rasio ini akan berdampak negatif bagi suatu perusahaan atau kemampuan mengubah piutang menjadi kas menjadi lebih rendah. Namun, jika diukur dalam hitungan hari, maka tren penurunan rasio ini direkomendasikan, karena lebih sedikit hari yang dibutuhkan untuk mengubah piutang menjadi uang tunai. Berikut ini rumus untuk menghitungnya:

Baca juga:   Perusahaan Software Terkemuka di Indonesia

Perputaran Piutang Usaha (Tahun ) = Penjualan Bersih ÷ Rata-rata Piutang Bersih

Atau

Perputaran Piutang Usaha (Hari) = Rata-Rata Piutang Kotor ÷ (Penjualan Bersih ÷ 360)

5. Rasio Perputaran Hutang (Accounts payable turnover)

Rasio ini digunakan untuk mengukur berapa kali per tahun perusahaan membayar hutangnya kepada pemasok (kreditor). Rasio yang lebih tinggi menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutangnya kepada kreditur secara sehat dan teratur. Untuk menghitungnya Anda dapat menggunakan dua rumus yaitu:

Rasio Perputaran Hutang = Harga Pokok Penjualan ÷ Hutang Usaha

Atau

Rasio Perputaran Hutang = Pembelian ÷ Rata-Rata Hutang

6. Rasio Hutang Beredar (Days Payable Outstanding)

Rasio ini mengukur jumlah hari yang rata-rata dibutuhkan oleh perusahaan untuk membayar hutang kepada krediturnya. Berikut rumus menghitungnya:

Hari Hutang Hutang = Hutang Usaha ÷ Rata-rata biaya penjualan harian

Secara umum, rendahnya nilai rasio ini berarti penggunaan modal kerja yang efisien. Namun, rasio hutang hari yang lebih besar tidak selalu menunjukkan posisi perusahaan yang buruk, karena menunda pembayaran kepada pemasok hingga tanggal terakhir dapat dilakukan perusahaan untuk mempersingkat siklus konversi kas. Oleh karena itu, analisis harus mencakup peninjauan rasio likuiditas juga dimana rasio hutang hari yang tinggi dan posisi likuiditas yang buruk menunjukkan bahwa perusahaan memiliki masalah dalam membayar hutangnya kepada kreditor.

Baca juga:   Training Software Akuntansi untuk Peningkatan Keahlian Akuntan

7. Rasio Perputaran Persediaan (Inventory turnover)

Rasio ini menunjukkan berapa hari yang biasanya dibutuhkan perusahaan untuk mengubah persediaan menjadi penjualan. Rasio yang lebih rendah menunjukkan bahwa lebih sedikit waktu yang dibutuhkan bagi perusahaan untuk mengubah persediaan menjadi penjualan atau meningkatnya modal kerja. Rumus perhitungannya yaitu:

Perputaran persediaan = Harga Pokok Penjualan ÷ Persediaan Rata-rata

8. Rasio Perputaran Kas (Cash Turnover)

Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan kas dengan mengukur berapa kali kas perusahaan dibelanjakan selama beberapa periode. Rumus menghitungnya yaitu:

Perputaran Kas = Penjualan ÷ Kas Rata-Rata dan Setara Kas

Biasanya nilai rasio yang tinggi dianggap lebih baik, karena berarti perusahaan menggunakan kasnya secara efektif dan lebih sering melakukan penyerahan. Namun, dalam beberapa kasus, nilai tinggi dapat menunjukkan bahwa perusahaan memiliki dana yang tidak mencukupi dan mungkin segera membutuhkan pembiayaan jangka pendek. 

9. Rasio Siklus Operasi (Operating Cycle)

Rasio ini yaitu jumlah hari yang dibutuhkan perusahaan untuk mengubah persediaan menjadi uang tunai atau periode antara tanggal perolehan barang dan tanggal realisasi kas dari penjualan. Biasanya, siklus ini berlangsung kurang dari satu tahun, namun ada pengecualian. Rumus menghitungnya sebagai berikut:

Siklus Operasi = Perputaran Piutang dalam Hari + Perputaran Persediaan dalam Hari

10. Rasio Siklus Konversi Kas (Cash Conversion Cycle)

Rasio ini yaitu jumlah hari yang dibutuhkan perusahaan untuk menghasilkan pendapatan dari asetnya. Berikut ini rumus untuk menghitungnya:

Siklus Konversi Kas = Periode Konversi Persediaan + Periode Konversi Piutang – Periode Konversi Hutang

Author :

Artikel Terkait

Saatnya mengalihkan perhatian ke arah pertumbuhan bisnis Anda

Izinkan kami mempercepat dan mengotomatisasi proses akuntansi serta keuangan bisnis, memastikan Anda terus berkembang dengan keyakinan penuh.